Development #1

Agustus 20, 2012


Adik saya beberapa hari yang lalu menjalani pindah konsultasi dokter. Awalnya ia menjalani konsultasi ke seorang dokter di Semarang, tepatnya di sebuah rumah sakit ternama. Kemudian, rekan dari Budhe merekomendasikan untuk pindah konsultasi ke seorang dokter tidak jauh dari rumah, tepatnya di Ampel, Salatiga.

Di sana, memang untuk sekali konsultasi dipasang harga yang lumayan tinggi. Namun, pelayanannya sangat memuaskan. Dokter wanita itu lebih jauh dan lebih detail mengenali kepribadian pasien. Budhe lebih lanjut diberi pertanyaan mengenai kebiasaan, kelemahan, kelebihan, aktivitas, bahkan sampai respon adik saya sehari-hari ketika menghadapi situasi tertentu.

Hasil konsultasi menunjukkan bahwa ia mengidap autisme ringan. Hal ini ditunjukkan atas faktor-faktor tertentu. Pertama, adik saya hanya mengalami kelemahan di konsentrasi, dan emosi yang terkadang sulit untuk dikendalikan. Kedua, ia cenderung lancar dalam belajar bahasa Inggris. Ketiga, ia adalah anak yang sangat patuh. Ia rajin dan teratur dalam menjalankan tugas-tugas di rumah. Setiap bangun pagi, ia selalu membuka jendela dan gordyn. Kemudian ia sudah mampu mandi, makan, mengurus dirinya sendiri tanpa mendapat komando dari orangtuanya. Ia memiliki jadwal makan yang teratur. Ini semua karena orangtuanya mendidik dia dengan baik, telaten, dan sabar. Bahkan, sudah 3 tahun ini ia menjalani puasa Ramadhan full dari imsak sampai magrib, sebulan lamanya.

Untuk mengendalikan emosi, dokter memberikan sejumlah resep berupa pil. Namun, pil ini hanya bersifat mengendalikan secara biologis saja. Orangtua perlu kerja keras untuk mendidiknya mampu mengendalikan emosi secara mandiri. Jadi, kelak tidak selalu bergantung pada obat-obatan. Dokter juga menyarankan untuk mengembangkan potensinya lebih jauh dan dalam. Hal ini diperlukan anak untuk lebih mandiri dan kelak mampu mendapatkan nafkah sendiri dari bakat yang dimilikinya itu.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook