AKTIF ITU GELI

Agustus 16, 2012

Ketika suatu kali ada adik kelas yang menyapa saya, alamak saya merasa berdosa sekali karena tidak kenal dengannya. Satu hal yang terucap dari bibirnya saat menyapa saya adalah,”Mbak kan dulu pas SMA aktif sekali. Setahu saya, Mbak dulu ikut organisasi macam-macam. Makanya saya tahu Mbak.” Seketika telinga saya geli mendengarnya. Ada sentuhan nakal di hati saya ketika kata-kata itu terlontar begitu saja.

Seperti sebuah iklan bilang Nggak semua yang loe denger itu bener. Kalau untuk saya, Nggak semua yang loe bilang itu bener. Saya tidak seaktif yang adik pikir. Ketika saya terlihat di depan, ada banyak orang yang tidak terlihat atau samar kiprahnya di belakang saya. Mereka bekerja sama dengan saya. Mereka jauh lebih aktif daripada saya. Jadi mendengar kata ‘aktif’ yang ditujukan untuk saya, mungkin lebih tepatnya adalah saya orangnya aktif punya relasi dengan banyak orang. Toh saya kerjanya juga cuma itu-itu saja. Kalau tidak jadi seksi konsumsi ya jadi seksi konsumsi lagi di lain acara. Hahaha

Mendengar kata ‘aktif’ bagi saya seperti momok besar. Saya tidak seperti itu. Bahkan di tahun pertama saya kuliah saja, saya terpaksa memutuskan untuk VAKUM dari organisasi. Ketika itu bisa saya katakan bahwa saya muak dengan organisasi, saya benci dengan kerjasama yang dikatakan orang butuh keloyalan tinggi, saya benci kata komitmen dengan cita-cita awal untuk mensukseskan sebuah acara, atau apalah sejenis itu. Dan ketika itu saya diam, tidak bisa bercerita kepada siapapun. Peristiwa itu memang seperti cambuk yang sangat keras sampai membuat saya trauma untuk berkomunikasi dengan banyak orang, saya trauma untuk ikut organisasi. Padahal senyatanya, tahun pertama itu adalah tahun yang sangat bagus prospeknya bagi mahasiswa untuk merintis karir dalam organisasi. Sebutlah ketika tahun pertama sudah bisa melewati berbagai tahap untuk masuk dalam organisasi, di tahun berikutnya mampu memposisikan diri menjadi kepala departemen dari sebuah atau bahkan lebih dari 1 organisasi. Siapa yang tidak setuju dengan pernyataan saya ini?

Saya mungkin telah melewatkan tahun pertama saya yang sangat berharga. Saya mungkin memang membayarnya dengan upaya saya untuk menyelamatkan uang dan kredibilitas teman-teman saya di kala itu. Saya melibatkan beberapa orang yang tidak tahu-menahu dalam peristiwa itu. Berhadapan dengan orang berprofesi tertentu yang selama ini saya hindari, ternyata di kala itu saya benar-benar membutuhkannya.

Mungkin adik tidak pernah melewatkan waktu-waktu seperti saya. Mungkin ketika adik berada 1 organisasi dengan saya untuk saat ini, adik berpikiran bahwa saya berkecimpung di organisasi sudah sejak 2 tahun yang lalu saat saya pertama kali menjadi mahasiswa. Karena ketika saya melihat orang lain yang berada di posisi gemilang di sebuah organisasinya, pasti mengawali karirnya saat tahun-tahun pertama menjadi mahasiswa.

Untuk adik di sana yang sedang kuliah di sebelah fakultas saya. Sebuah kesempatan bagus bagi adik bisa masuk ke organisasi yang menurut adik adalah organisasi yang mampu mengasah kemampuan kepemimpinan adik. Manfaatkan kesempatan itu dengan baik. Jangan seperti saya yang di depan kelihatan aktif, tapi jujur saja dari hati saya, saya belum merasa puas untuk kata-kata seperti itu. Saya katakan bahwa saya sampai saat ini belum melakukan apa-apa yang pantas disebut sebagai ‘aktif’.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook