Menemani Adik di SLB Itu Menyenangkan

Agustus 16, 2012


Tanggal 16 Juli ini jadi hari yang mendebarkan jantungku. Pakdhe budhe pergi untuk latihan manasik haji. Dan di hari ini pula, saya diberi amanah menemani adik tercinta sekolah. Kebetulan pula hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah beberapa minggu liburan kenaikan kelas. Hari ini pula adalah hari pertama adik menjalani upacara hari Senin di sekolah.

Arif namanya. Ia setinggi hampir 160 cm, atau mungkin sudah 160 cm. Lebih tinggi beberapa cm dibanding saya. Badannya gemuk. Terakhir saya dengar dari budhe, berat badan Arif mencapai 70 kg, hampir dua kali lipat berat badan saya. Adik saya termasuk dalam anak berkebutuhan khusus. Sudah 3 tahun ini ia disekolahkan di SLB Negeri atas permintaan kepala SD Umumnya dulu di SD Negeri 3 Salatiga. Secara fisik ia tidak terlihat seperti anak berkebutuhan khusus. Tampan, putih, gemuk berisi, tinggi dibanding anak-anak seumurannya. Namun, dalam mengungkapkan kebutuhannya, ia sulit untuk mengutarakan secara lisan. Antara otak dan bibir kurang bisa bekerja normal seperti orang pada umumnya. Ketika ia menginginkan sesuatu, ia hanya bisa mengucapkan beberapa patah kata. Dengan jeda waktu sebentar, baru ia melanjutkan dengan beberapa patah kata berikutnya.

Sempat ia divonis mengidap autisme, namun oleh psikiater yang sampai saat ini menanganinya, ia tidak lagi menunjukkan gejala autisme. Arif mengalami banyak sekali perkembangan. Bahkan ia sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Makan, mandi, mengambil baju dan seragam yang diinginkan, memakai sepatu, berdandan atau merapikan diri sendiri. Namun, ia juga memiliki keterbatasan dalam hal mengontrol emosi. Sekali waktu, ia pernah menangis keras, berteriak, bahkan yang paling ekstrim adalah memukul orang yang ada di sekitarnya. Tetapi, secara batiniah, ia memahami bahwa dirinya sendiri mengalami kekurangan. Usai ia meluapkan emosi, ia segera minta maaf ke orang-orang di sekitarnya. Kemudian secara sadar ia memanggil nama psikiaternya. Itu tandanya ia ingin pergi bertemu psikiaternya. Ia menyadari bahwa ia kurang bisa mengontrol emosi. Anehnya, di psikiater itu ia hanya diajak bermain, bercanda, dan itu membuatnya tenang. Apalagi ketika usai solat magrib, diajak hafalan surat pendek, berdoa, ia tenang sekali.

Dari beberapa kejadian yang hanya orang tertentu saja yang bisa mengatasinya, saya mulai ketakutan. Saya berdoa agar hari pertama saya menemani Arif akan berjalan lancar dan tidak ada hambatan sama sekali. Saya sadar, bahwa sebagai kakak kandungnya saya belum memiliki kemampuan untuk merawat adik saya. Saya perlu banyak belajar dari orang-orang yang ada di sekitar saya. Ketika adik saya gusar, saya harus menenangkannya. Ketika adik saya lelah, saya harus menyiapkan tempat yang nyaman untuknya istirahat. Walau begitu, saya sejak dulu memililki keinginan untuk tahu lebih banyak tentang dia. Apapun keadaannya, saya harus siap dan mempersiapkannya dimulai dari saat ini.
Untuk 2 hari ini memang saya sempatkan untuk membolos kuliah demi menemani adik saya. Kuliah memang penting, refreshing dari penatnya kuliah dan aktivitas kampus juga penting, tapi menemani adik saya juga jauh lebih penting karena tidak hanya menentukan masa depan saya saja, tetapi juga masa depan adik saya. Pesan orang tua, terlebih setelah Bapak tiada, selalu membahagiakan ibu dan merawat serta mengasihi adik saya. Tidak perlu jauh-jauh untuk menjadi guru SLB jika ingin berbagi kasih dan mencari pahala. Tetap fokus dalam meniti jalan menuju sukses dunia, keluarga sejahtera, didampingi dengan meluangkan waktu untuk mendampingi adik saya yang merupakan anugerah dari Alloh yang tiada habisnya.

Beruntung hari ini semua berjalan lancar. Arif sudah duduk di kelas 6 SD. Ia mengikuti upacara bendera dengan sangat baik, tenang. Masuk kelas dan mengikuti pelajaran dengan baik. Ketika istirahat tiba, ia mendatangi saya untuk minta dibukakan bekal. Ketika pulang, ALHAMDULILLAH kami sampai di rumah dengan selamat walau ada sedikit insiden kecil. Badannya jauh lebih besar daripada saya. Saya hanya membawa motor supra f*t saya plat K 643* QE ke sekolah. Ia sangat berat sampai saya kewalahan membawa motor. Alhasil oleng lah motor saya sampai hampir menimpa sepasang suami istri yang sedang naik motor. Beruntung ia tidak meluapkan emosi. Beruntung bapak ibu itu tidak marah kepada saya. Dan sejak saat itu, saya berniat untuk sesegera mungkin sukses dan punya mobil. Sungguh tidak akan saya menyangka jika sampai ia SMA nanti, ketika tubuhnya jauh lebih besar daripada saya, saya harus memboncengkannya dengan motor saya yang kecil itu.

Satu hal yang saya pelajari saat di sekolah. Semua anak berkebutuhan khusus dengan spesifikasi kekurangan apapun diterima di sekolah itu. Mulai dari SD, SMP, sampai SMA. Saya bisa menamai sekolah ini dengan nama SEKOLAH MAKLUM. Kenapa?? Baik dari guru, orang tua/ wali murid, sesama murid saling memaklumi kekurangan masing-masing. Kerennya, mereka saling bertegur sapa, bercanda gurau, saling menyesuaikan kemampuan. Saya mengamati, dari sekian murid yang ada hampir seluruhnya paham bahasa isyarat. Hampir semuanya belajar. Mereka bercanda gurau dengan bahasa isyarat, walau diantara mereka ada yang tuna rungu saja, tuna wicara saja, tuna daksa saja, dll. Mereka saling mengerti dan menyesuaikan.

Ada satu anak SMA, gadis manis dengan jilbab biru duduk di kursi roda. Tari namanya, ia menjadi pembaca doa ketika upacara. Ia juga yang memimpin program orientasi sekolah itu selama 3 hari ke depan. Pagi tadi, di hadapan beberapa murid baru, ia menjabarkan semua peraturan mengikuti program orientasi siswa. Saya jadi teringat ketika saya sendiri menjadi panitia MOS kala SMP dan SMA. Saya berpikir bahwa ketika mereka melakukan sosialisasi tentang MOS, tidak ada bedanya dengan sosialisasi yang pernah saya lakukan dulu. Nampak di mata saya, mereka sama kok seperti anak normal lainnya. Hanya saja berbeda dalam penyampaiannya.

Saya kagum dengan Tari. Ia manis, pandai berbahasa, pandai berpuisi dan berpidato bahasa Inggris, walau kakinya tidak normal. Ia punya semangat tinggi. Bagaimana tidak? Ia sudah berkali-kali ke luar Jawa untuk ikut lomba dan selalu menang. Berpuluh juta rupiah digenggamnya dan medali emas pernah menggantung di lehernya. Ia yang seorang juara itu bersosialisasi dengan teman-temannya dengan berbagai kekurangan. Ia cerdas dalam berkata dan berbahasa isyarat. Malu saya memandang diri saya sendiri yang tidak memiliki apa-apa.

Yang kedua, ada anak laki-laki berbincang dengan salah satu orang tua murid kelas 3. Sebut saja Bapak Wanda (Bapaknya dek Wanda) mengajaknya bergurau. Ia menggunakan topi merah, celana merah SD dan menggendong tas hitam di punggungnya. Tangan kanannya menggenggam tangkai pohon yang sudah dibersihkan dari daun. Kedua alis tebalnya yang hampir menyatu dalam satu garis membuatnya terlihat lucu.

“Pak, ayo nge-band. Kowe sing gitar,”
(Pak, ayo nge-band. Bapak yang pegang gitar).
Di sini, semua serba maklum. Mau seorang anak memanggil kita seenaknya, meludahi guru, ngompol di sembarang tempat, semua itu sangat dimaklumi. Si bocah yang kelihatannya sudah seharusnya usia SMA itu sambil tertawa menirukan seorang drumer band.
“oh, ya ayok. Kowe sing nge-drum?”
(Oh iya, ayo. Kamu yang nge-drum?) sahut Bapak Wanda.
“Iyo, ning kana lho, Pak,”
(Iya, di sana lho Pak) sahutnya sambil menunjuk sebuah ruang yang saya kira adalah ruang latihan band.
“Eh, cah. Kowe ngendang wae piye? Hahaha”
(Eh, kamu yang pegang gendang aja ya? Hahaha) gurau Bapak Wanda dan si bocah tertawa-tawa bahagia.
Si bocah berkeliling-keliling sekolah sampai jam sekolah usai. Setiap ia menghampiri Bapak Wanda, ia selalu mengajak beliau main band. Hahaha. Saya jadi ingat ketika saya main band juga dengan teman-teman karib saya di kampus. Kenapa tidak kalau bocah itu menggantikan Hafid (@hafidhilmi) di posisi drum atau kahoon atau jimbe. Kenapa tidak kalau kita membentuk band yang unik macam ini? Ide saya spontan keluar.

Yang jelas, saya senang berada di sana. Orang-orangnya ramah, bahkan anak-anak yang sekolah di sana juga sangat ramah, menyapa saya, menanyakan nama saya. Lingkungan orang tua murid yang juga menyenangkan, berikut cerita mereka tentang anak-anak mereka yang memberi banyak inspirasi.

You Might Also Like

0 komentar

Like us on Facebook